Jumat, 28 Oktober 2011

Vaginitis, Masalah Perempuan


Didalam vagina hidup bersama beberapa bakteri yang saling menguntungkan seperti basil Doderlein, stapilococcus dan streptococcus.Flora ini  terdiri atas banyak jenis kuman yang dalam keadaan normal hidup dlam simbiosis mereka.Jika simbiosis ini terganggu dan jika kuman-kuman seperti streptococus, stapilococus,basil coli, dan lain-lain dapat berkembang biak, Timbulah Vaginitis non spesifik umumnaya vaginitis nono spesifik dapat disembuhkan dengan antibiotik.Secara umum gejala infeksi bagian vagina atau vaginitis disertai infeksi bagian luar atau vulva, pengeluaran cairan (bernanah), tersa gatal dan terbakar.
VAGINITIS
adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum, permukaan mokusa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus.
Umumnya vaginitis tidak menimbulkan masalah serius tetapi adakalanya mengakibatkan rasa tidak nyaman yang cukup mengganggu. Infeksi saluran reproduksi bisa dicetuskan berbagai hal, misalnya proses persalinan. Karena pada  saat ini keadaan ibu menurun, terdapat luka pada jalan lahir akibat persalinan, hubungan saluran reproduksi dengan dunia luar lebih terbuka, dan cairan nifas yang disenangi kuman. Namun, saluran reproduksi bisa pula terinfeksi tanpa pencetus, salah satunya penyakit menular seksual.
Vagina tidaklah steril di saluran tersebut tumbuh banyak flora normal yang hidup seimbang. Bila flora ini digantikan oleh kuman “jahat” maka terjadilah vaginosis bakterialis. Biasanya terjadi bila pH vagina lebih dari 4,5 dan berhubungan dengan persalinan prematur, pecah ketuban, atau infeksi selaput ketuban.

PENYEBAB
·                      Eksasogen       : kuman datang dari luar.
·                      Autogen          : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh.
·                      Endogen          : dari jalan lahir sendiri.

Pada wanita vagintitis sering disebabkan oleh:
1.      Infeksi
o   Bakteri, seperti : klamidia, gonokokus.
o   Jamur, seperti : kandida terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotik
o   Protozoa, seperti : Trichomonas vaginalis
o   Virus, seperti : virus papiloma manusia dan virus herpes.
2.      Zat atau benda yang bersifat iritatif
°         Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons
°         Sabun cuci dan pelembut pakaian
°         Deodoran
°         Zat di dalam air mandi
°         Pembilas vagina
°         Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat
°         Tinja
3.      Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya
4.      Terapi penyinaran
5.      Obat-obatan
6.      Perubahan hormonal.
Pada ibu nifas vaginitis sering disebabkan oleh:
§  E. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium.
§  Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat- alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman.
§  Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya.
§  Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir.
§  Pelukaan karena ibu nifas melakukan coitus.
GEJALA

Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau  uning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung  Mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis.
Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga  bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi.
Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim) atau endometrium. Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bias disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses.  Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya.
Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan Pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan.
PENCEGAHAN
Pencegahan Infeksi Nifas:
Selama kehamilan
§  Perbaikan gizi untuk mencegah anemia.
§  Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.

Selama persalinan
§  Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir.
§  Membatasi perlukaan.
§  Membatasi perdarahan.
§  Membatasi lamanya persalinan.

Selama nifas
§   Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.
§   Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama.
§   Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat.
Cara mengatasi vaginitis
*      Jagalah Kebersihan Sekitar Vagina
*      Usahakan kondisi vagina tetap kering terutama sehabis buang air kecil dan buang air besar untuk mencegah tumbuhnya bakteri.
*      Setelah buang air besar, bilaslah dengan air dari depan ke arah belakang dan keringkan. Cara ini dapat mencegah penyebaran bakteri dari arah anus ke vagina.
*      Gunakan pembersih khusus vagina yang lembut, untuk mencegah timbulnya iritasi.
*      Untuk menjaga kestabilan pH vagina, pembersih khusus vagina yang digunakan sebaiknya mempunyai pH sesuai dengan pH normal vagina, yaitu 4,5 – 4,7.
*      Pakaian Dalam
*      Hindari pemakaian celana panjang atau celana dalam yang terlalu ketat karena dapat menimbulkan rasa hangat dan lembab.
*      Gunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun karena mampu menyerap keringat dan sirkulasi udara sekitar vagina terjaga.
*      Segera ganti pakaian setelah berolahraga.
*      Lepaskan pakaian renang yang basah setelah berenang.
*      Mengganti pembalut sesering mungkin



Gaya hidup
*                  Hindari seks bebas
*                  Batasi makanan yang mengandung gula dan tepung karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
*                  Jaga berat badan tetap ideal, karena kegemukan membuat kedua paha tertutup rapat, daerah seputar vagina menjadi lembab karena kekurangan sirkulasi.
*                  Cukup istirahat.
*                  Stress dapat menurunkan daya tahan tubuh.
*                  Olahraga teratur dapat mengurangi stress dan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi.
PENGOBATAN
Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks, luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Berikan dosis yang cukup dan adekuat.
Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.
Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya.
Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul.
Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari.
Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin.
Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistami per-oral (tablet). Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisadiberikan obat pereda nyeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar