Sabtu, 29 Oktober 2011

hipertensi saat menopause


Masa menopause merupakan masa yang sangat sulit bagi wanita yang belum mengerti. Terlebih masa menopause rentan terhadap penyakit yang menyertainya jika tidak dapat menjaga kesehatan dan pola hidup yang seimbang. Salah satu masalah yang menyertai menopause adalah hipertensi. Menopause dengan hipertensi merupakan suatu gejala patologi. Maka dari itu sangat dibutuhkan perhatian yang lebih untuk memantau kesehatannya. Selain juga perlu mengatur pola makan agar hipertensi tidak mengancam kesehatan juga menjamin kesejahteraan bagi wanita.
            Mari mengenal lebih dekat permasalahan hipertensi pada menopause!

MENOPAUSE
Adalah masa transisi atau peralihan, dari beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya.

HIPERTENSI
Adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih.

TANDA
  •  Tekanan darah naik sekitar 160/100 ke atas
  • Retina tampak cekung
  •  Jantung dan arteri yang melemah

GEJALA
  • Nyeri kepala suboksipital
  • Gangguan visual
  • Hipertropi ventrikel kiri

PENYEBAB
  •  Genetik
  • Penyakit ginjal
  • Natrium dan kalsium yang berlebih
  •  Faktor eksaserbasi
  • Penggunaan alkohol

PENATALAKSANAAN ATAU PENANGANAN
  • Mengurangi berat badan dan memperhatikan ukuran pinggang.
  • Sering olahraga min 15 menit setiap hari.
  •  Diet makanan yang mengandung lemak, dan diet sesuai dengan standar kesehatan.
  • Mengurangi sodium
  • Menghindari alkohol
  • Menghindari rokok
  • Menghindari rasa stress
  • Memantau kesehatan secara teratur

Jumat, 28 Oktober 2011

Vaginitis, Masalah Perempuan


Didalam vagina hidup bersama beberapa bakteri yang saling menguntungkan seperti basil Doderlein, stapilococcus dan streptococcus.Flora ini  terdiri atas banyak jenis kuman yang dalam keadaan normal hidup dlam simbiosis mereka.Jika simbiosis ini terganggu dan jika kuman-kuman seperti streptococus, stapilococus,basil coli, dan lain-lain dapat berkembang biak, Timbulah Vaginitis non spesifik umumnaya vaginitis nono spesifik dapat disembuhkan dengan antibiotik.Secara umum gejala infeksi bagian vagina atau vaginitis disertai infeksi bagian luar atau vulva, pengeluaran cairan (bernanah), tersa gatal dan terbakar.
VAGINITIS
adalah suatu peradangan pada lapisan vagina. Dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum, permukaan mokusa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus.
Umumnya vaginitis tidak menimbulkan masalah serius tetapi adakalanya mengakibatkan rasa tidak nyaman yang cukup mengganggu. Infeksi saluran reproduksi bisa dicetuskan berbagai hal, misalnya proses persalinan. Karena pada  saat ini keadaan ibu menurun, terdapat luka pada jalan lahir akibat persalinan, hubungan saluran reproduksi dengan dunia luar lebih terbuka, dan cairan nifas yang disenangi kuman. Namun, saluran reproduksi bisa pula terinfeksi tanpa pencetus, salah satunya penyakit menular seksual.
Vagina tidaklah steril di saluran tersebut tumbuh banyak flora normal yang hidup seimbang. Bila flora ini digantikan oleh kuman “jahat” maka terjadilah vaginosis bakterialis. Biasanya terjadi bila pH vagina lebih dari 4,5 dan berhubungan dengan persalinan prematur, pecah ketuban, atau infeksi selaput ketuban.

PENYEBAB
·                      Eksasogen       : kuman datang dari luar.
·                      Autogen          : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh.
·                      Endogen          : dari jalan lahir sendiri.

Pada wanita vagintitis sering disebabkan oleh:
1.      Infeksi
o   Bakteri, seperti : klamidia, gonokokus.
o   Jamur, seperti : kandida terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotik
o   Protozoa, seperti : Trichomonas vaginalis
o   Virus, seperti : virus papiloma manusia dan virus herpes.
2.      Zat atau benda yang bersifat iritatif
°         Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks dan spons
°         Sabun cuci dan pelembut pakaian
°         Deodoran
°         Zat di dalam air mandi
°         Pembilas vagina
°         Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat
°         Tinja
3.      Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya
4.      Terapi penyinaran
5.      Obat-obatan
6.      Perubahan hormonal.
Pada ibu nifas vaginitis sering disebabkan oleh:
§  E. coli berasal dari kandung kemih atau rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium.
§  Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain adalah sarung tangan atau alat- alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman.
§  Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau yang membantunya.
§  Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir.
§  Pelukaan karena ibu nifas melakukan coitus.
GEJALA

Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju, atau  uning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung  Mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis.
Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga  bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi.
Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena Trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat. Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim) atau endometrium. Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bias disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa disebabkan oleh infeksi herpes atau abses.  Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya.
Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan Pap smear. Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan.
PENCEGAHAN
Pencegahan Infeksi Nifas:
Selama kehamilan
§  Perbaikan gizi untuk mencegah anemia.
§  Coitus pada hamil tua hendaknya tidak dilakukan karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.

Selama persalinan
§  Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalur jalan lahir.
§  Membatasi perlukaan.
§  Membatasi perdarahan.
§  Membatasi lamanya persalinan.

Selama nifas
§   Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.
§   Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama.
§   Penderita dengan tanda infeksi nifas jangan digabung dengan wanita dalam nifas yang sehat.
Cara mengatasi vaginitis
*      Jagalah Kebersihan Sekitar Vagina
*      Usahakan kondisi vagina tetap kering terutama sehabis buang air kecil dan buang air besar untuk mencegah tumbuhnya bakteri.
*      Setelah buang air besar, bilaslah dengan air dari depan ke arah belakang dan keringkan. Cara ini dapat mencegah penyebaran bakteri dari arah anus ke vagina.
*      Gunakan pembersih khusus vagina yang lembut, untuk mencegah timbulnya iritasi.
*      Untuk menjaga kestabilan pH vagina, pembersih khusus vagina yang digunakan sebaiknya mempunyai pH sesuai dengan pH normal vagina, yaitu 4,5 – 4,7.
*      Pakaian Dalam
*      Hindari pemakaian celana panjang atau celana dalam yang terlalu ketat karena dapat menimbulkan rasa hangat dan lembab.
*      Gunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun karena mampu menyerap keringat dan sirkulasi udara sekitar vagina terjaga.
*      Segera ganti pakaian setelah berolahraga.
*      Lepaskan pakaian renang yang basah setelah berenang.
*      Mengganti pembalut sesering mungkin



Gaya hidup
*                  Hindari seks bebas
*                  Batasi makanan yang mengandung gula dan tepung karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri yang merugikan.
*                  Jaga berat badan tetap ideal, karena kegemukan membuat kedua paha tertutup rapat, daerah seputar vagina menjadi lembab karena kekurangan sirkulasi.
*                  Cukup istirahat.
*                  Stress dapat menurunkan daya tahan tubuh.
*                  Olahraga teratur dapat mengurangi stress dan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap infeksi.
PENGOBATAN
Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks, luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Berikan dosis yang cukup dan adekuat.
Sambil menunggu hasil laboratorium berikan antibiotika spektrum luas. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.
Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya.
Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul.
Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari.
Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin.
Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistami per-oral (tablet). Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisadiberikan obat pereda nyeri.

MASTITIS PADA MASA NIFAS


Bagi wanita yang telah melahirkan pasti merasa lega dan bahagia atas kelahiran putra-putrinya. Namun, perlu diperhatikan bahwa bagi wanita pasca melahirkan atau yang biasa disebut dengan masa nifas terdapat beberapa masalah yang perlu menjadi perhatian dan penanganan yang khusus jika telah hal ini telah ia alami. Satu dari beberapa masalah pada masa nifas ini adalah Mastitis.

MASTITIS
Adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktsional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Abses payudara, pengumpulan nanah local didalam payudara merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang berat dan memerlukan biaya yang sangat besar.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat tehnik menyusui yang buruk merupakan penyebab yang penting, tetapi dalam benak petugas kesehatan, mastitis masih dianggap dengan infeksi payudara.
Mastitis dapat terjadi pada setiap tahap laktasi. Abses payudara juga paling sering terjadi pada 6 minggu pertama pasca kelahiran.

Penyebab Mastitis
·         Stasis ASI
biasanya merupakan penyebab primer, yang disertai atau berkembang menuju infeksi.
·         Infeksi
Menurut Gunter (1958) menyatakan bahwa infeksi (bila terjadi), hal ini bukan primer tetapi akibat darai stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri.

STATIS ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini dapat  terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat bila bayi tidak menghisap ASI, yang dihasilkan dari sebagian atau seluruh payudara. Penyebabkan termasuk kenyutan bayi yang buruk pada payudara, penghisapan yang tidak efektif, pembatasan frekwensi atau durasi menyusui, dan sumbatan pada saluran ASI.
a.       Bendungan ASI
Pada bendungan, payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran vena dan limpatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat, dan tekanan pada tekanan ASI dan alveoli meningkat. Payudara menjadi bengkak dan edema.
Baik kepenuhan fisiologis maupun bendungan, kedua payudara biasanya terkena. Namun, terdapat beberapa perbedaan penting, yaitu:
-          Payudara yang penuh terasa panas berat dan keras. Tidak terlihat mengkilat, edema atau merah. ASI biasanya mengalir dengan lancar, dan kadang-kadang menetes keluar sacara spontan. Bayi mudah menghisap dan mengeluarkan ASI.
-          Payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri. Payudara dapat terlihat mengkilat dan edema. Putting susu teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk mengisap ASI sampai pembengkakan berkurang. Wanita kadang-kadang menjadi demam. Walaupun demikian, demam biasanya hilang dalam 24 jam. 
b.      Frekuensi menyusui
Bendungan payudara dapat dikurangi apabila bayi disusui tanpa batas. Wanita yang menderita mastitis biasanya karena tidak menyusui atau bayi mereka tidak mau menyusu seperti biasanya.
c.       Kenyutan pada payudara
Nyeri puting dan putting peceh-pecah sering ditemukan pada penderita mastitis. Nyeri putting biasa disebabkan karena kenyutan bayi yang buruk sehingga pengeluaran ASI pun tidak efektif.

INFEKSI
Organisme paling sering ditemukan pada penderita mastitis adalah Stapylococcus aureus,
Staph albus, Escheria colli, dan Streptococcus.
Rute infeksi melalui payudara belum diketahui namun diduga melalui duktus laktiferus ke dalam lobus dengan penyebaran hematogen dan melalui fisura putting susu ke dalam system limfatik.

FAKTOR PREDISPOSISI
·         Umur
·         Paritas
·         Serangan sebelumnya
·         Melahirkan
·         Gizi
·         Fektor kekebalan dalam ASI
·         Stress dan kelelahan
·         Pekerjaan diluar rumah
·         Trauma

Gejala Mastitis
Gajala mastitis non infeksius
-          Adanya “bercak panas” atau nyeri tekan yang akut
-          Ada bercak kecil dan keras pada daerah nyeri tekan tersebut
-          Tidak demam
Gejala mastitis infeksius
-          Lemah dan sakit pada otot-otot seperti flu
-          Sakit kepala
-          Demam
-          Terdapat area luka yang lebih luas pada payudara
-          Kulit payudara tampak kemerahan
-          Payudara terasa keras dan tegang (pembengkakan)



Pencegahan
Mastitis sangat mudah dicegah bila menyusui dilakukan dengan baik sejak awal dan apabila terjadi tanda-tanda mastitis seperti bendungan ASI, nyeri putting, dll segera diobati.
a.       Memberikan pemahaman tentang menyusui
Wanita harus mengetahui mengenai penatalaksanaan menyusui yang efektif dan pemberian makanan bayi dengan tepat. Hal yang harus diperhatikan misalnya:
-          Segera susui bayi setelah proses kelahiran
-          Pastikan bahwa bayi mengenyut payudara dengan baik
-          Menyusui secara eksklusif 6 bulan
-          Atur frekuensi menyusui.
b.      Perawatan pada kehamilan dan persalinan
-          Bayi harus di IMD
-          Rawat gabung itu sangat penting
-          Ibu harus mendapat bantuan dan dukungan mengenai tehnik menyusui yang baik
c.       Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
-          Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan bayinya
-          Dukung ibu untuk menyusui sesering mungkin
-          Pemerasan dapat dilakukan dengan tangan maka bantu ibu untuk memeras susu
-          Lakukan kompres pada payudara
d.      Periksa gejala statis ASI
Bila ibu mempunyai gejala statis ASI maka ibu perlu:
-          Beristirahat
-          Anjurkan untuk lebih sering menyusui
-          Kompres panas kompres dingin
-          Pijat lembut pada daerah benjolan saat menyusui
e.       Pengendalian infeksi
Petugas kesehatan perlu sekali memperhatikan mengenai pencegahan infeksi ini misalnya dengan mencuci tangan sebelum melakukan tindakan, menggunakan sarung tangan DTT bila melakukan tindakan dsb.

Penanganan
jika semua pencegahan telah dilakukan namun mastitis tetap terjadi maka penanganannya harus cepat dan tepat serta cari penyebabnya terlebih dahulu..
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam penanganan mastitis
a.       Memberi dukungan
Mastitis merupakan keadaan yang sangat nyeri sekali sehingga sering membuat ibu depresi dan sangat cemas. Ibu juga akan merasa binggung apakah harus melanjutkan menyusui atau tidak, Tetapi ibu cenderung tidak mau melanjutkan menyusui karena sangat sakit. Maka dari itu ibu harus diberi keyakinan untuk tetap menyusui bayinya dan payudaranya akan pulih kembali.
b.      Pengeluaran ASI dengan efektif
Terapi antibiotic dan simtomatik akan membuat ibu merasa lebih nyaman untuk sementara waktu dan akan semakin buruk bila pengeluaran ASI tidak diperbaiki.
-          Memberi dukungan kepada ibu untuk menyusui bayinya tanpa batas, sesering dan selama mungkin
-          Memperbaiki tehnik menyusui dan kenyutan bayi agar pengeluarannya lebih banyak
-          Peras ASI dengan tangan atau alat pemompa ASI
c.       Terapi antibiotic
Terapi antibiotik biasa dilakukan pada mastitis karena infeksi bakteri. Pemberian antibiotic harus tepat.
Antibiotic
Dosis
Eritromisin
250-500mg setiap 6 jam
Flukloksasilin
250 mg setiap 6 jam
Dikloksasilin
125-500 mg setiap 6 jam peroral
Amoksasilin
250-500 mg setiap 8 jam
Sefaleksin
250-500mg setiap 6 jam

d.      Terapi simptomatik
Terapi nyeri ini biasanya dengan analgesic. Bisa diberikan ibu profen atau paracetamol untuk mengurangi nyeri. Dan pantau suhu tubuh ibu. Namun istirahat juga sangat penting dipertimbangkan sebaiknya tidur jika mungkin karena dengan berbaring akan dapat meningkatkan frekuensi menyusui dan pengeluaran asi nya juga akan lebih baik.
Tindakan yang lain dapat juga dilakukan dengan kompres hangat-dingin pada payudara untuk membantu aliran ASI namun ibu juga harus minum air yang banyak.

ABSES PAYUDARA
Bila abses terbentuk maka pus harus segera dikeluarkan, dapat dilakukan dengan insisi dan penyaliran